Tsunami Selat Sunda Melanda Banten dan Lampung, Jumlah Korban Semakin Bertambah

JAKARTA – Tsunami yang melanda Selat Sunda  pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 21.27 WIB menyebabkan korban jiwa dan kerusakan lainnya pada sejumlah lokasi di wilayah Banten dan Lampung Selatan. Keterangan yang dihimpun oleh PKPU Human Initiative melalui data rilis BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) bahwa jumlah korban Tsunami Selat Sunda semakin bertambah.

PKPU HI telah menghimpun data terbaru berdasarkan keterangan jumpa pers oleh BNPB pada Minggu (23/12) pukul 16.00 WIB bahwa jumlah korban jiwa sudah mencapai 222 jiwa, kemudian untuk jumlah korban yang mengalami luka-luka sebanyak 843 jiwa dan 30 orang hilang.

Sementara itu, data terakhir yang berhasil dihimpun oleh PKPU HI terkait kondisi lainnya yang mengalami kerugian yakni sebanyak 558 unit rumah rusak berat, 9 hotel rusak berat, 350 kapal dan perahu rusak dan 60 tempat kuliner rusak.

Adapun wilayah yang terdampak tsunami Selat Sunda ini adalah pemukiman dan kawasan wisata di sepanjang pantai di wilayah Pandeglang, Banten. PKPU Human Initiative terus melakukan upaya pendataan terus terkait kondisi tsunami Selat Sunda yang melanda wilayah Banten – Lampung Selatan.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama BNPB menyatakan dalam keterangan rilisnya bahwa tsunami Selat Sunda terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Data ini dihimpun berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat terkait longsor di bawah laut.

“Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, peristiwa ini tidak disebabkan aktivitas gempa bumi tektonik, tapi sensor Cigeulis (CGJI) mencatat adanya aktivitas seismik dengan durasi ± 24 detik dengan frekuensi 8-16 Hz pada pukul 21.03 WIB,” menurut keterangan tertulis BMKG pada, Minggu (23/12).

Hal serupa juga dinyatakan juga oleh BNPB dalam rilis resminya di laman bnpb.go.id bahwa tidak ada aktivitas tektonik, namun terjadinya tsunami ini akibat pengaruh erupsi dari Gunung Anak Krakatau. Sejak Sabtu, (22/12), kemarin terjadi aktivitas gelombang pasang air laut pada pukul 21.30 WIB seperti yang dikutip dari laman BNPB.

“Tsunami bukan dipicu oleh gempabumi. Tidak terdeteksi adanya aktivitas tektonik. Kemungkinan tsunami terjadi akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Pada saat bersamaan terjadi gelombang pasang akibat pengaruh bulan purnama. Jadi ada kombinasi antara fenomena alam yaitu tsunami dan gelombang pasang.” Tulis BNPB pada Minggu, (23/12) di laman bnpb.go.id

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya menghimbau agar seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini. PKPU Human Initiative akan terus berupaya melakukan yang terbaik untuk membantu masyarakat yang terkena dampak tsunami Selat Sunda dengan berbagai upaya.