PKPU Human Initiative Hadiri Joint Learning Initiative on Faith & Local Communities di Birmingham, UK

BIRMINGHAM – Joint Learning Initiative on Faith & Local Communities (JLIFLC) adalah kerjasama internasional tentang peran dan kontribusi lembaga kemanusiaan terhadap kesehatan masyarakat lokal setempat. Dikutip dari laman jliflc.com bahwa JLIFLC juga berusaha untuk menyejahterakan serta mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Tahun ini JLIFLC berlangsung pada 25 – 26 Oktober 2018 di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Birmingham, UK.

Pada kesempatan ini, Tomy Hendrajati selaku Direktur Program PKPU Human Initiative dan Ketua Dewan Pengurus Humanitarian Forum Indonesia (HFI) mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki latar belakang keagamaan yang kuat. Selain itu, tokoh agama di Indonesia memiliki peran yang strategis di lingkungan masyarakat. Kedua hal ini menjadi penting jika dikelola dengan baik dalam suatu kegiataan kemanusiaan.

“Masyarakat Indonesia memiliki akar agama yang kuat. Sedangkan tokoh agamanya juga memiliki peran yang sangat strategis di masyarakat. Modal sosial dan peran strategis ini memiliki peluang untuk dikelola lebih baik dalam kegiatan kemanusiaan baik yang berupa aktivitas pra bencana maupun pasca bencana,” ujar Tomy Hendrajati pada Sabtu (3/11) di Jakarta melalui whatsapp.

 

Agenda yang bertemakan “Humanitarian Overview Global -National Context” ini membahas tentang pencarian format paling efektif dalam membangun kerjasama. Tujuannya agar terjadi sinergi antar lembaga kemanusiaan berbasis agama dan tokoh agama. Tidak hanya itu saja, sinergi ini juga melibatkan berbagai institusi yang memiliki kontribusi paling awal dan paling strategis di lapangan. Tomy mengatakan agenda tersebut nantinya akan mendorong peran tokoh agama dan lembaga berbasis keagamaan agar lebih aktif lagi dalam hal bantuan dan pendidikan kebencanaan. Ia juga menuturkan bahwa langkah selanjutnya adalah proses peningkatan kapasitas (capacity building) dan program bersifat pengembangan (development).

“Tindakan lanjutannya adalah capacity building untuk penguatan kapasitas teknis dan konten untuk jejaring, membuat riset dan program-program bersifat development,” tuturnya.

 

Agenda ini juga dihadiri oleh sekitar 50 peserta dan sekitar 40 lembaga kemanusiaan dunia. Negara-negara yang terdaftar dalam UNICEF juga turut hadir dalam agenda tersebut. Setiap negara dapat berkontribusi dalam hal pendistribusian bantuan dan percepatan pemulihan para penyintas. Bukan hanya itu saja, tiap negara juga dapat berkontribusi dalam hal pencegahan konflik seperti kekurangan nutrisi pada balita dan anak-anak. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka akan menjadi contoh lembaga kemanusiaan terbaik di tingkat global.