Mutiara di Belantara Kota

Oleh : Ikvinia Nur Fatimah (Fasilitator Project Development)

Sabtu pagi yang sejuk, air hujan rintik-rintik membasahi bumi Jakarta dan Tangerang, mungkin juga kota lain. Langkahku tersaruk panjang-panjang, berkejaran dengan waktu yang tak menolerir alasan keterlambatan. Menggendong kamera sebagai alat dokumentasi dan menenteng sebuah rangka banner untuk nanti dibentangkan saat acara.

Tujuanku, menyongsong MI Darussalam. Terletak di tengah kota orang-orang kaya yang kemudian menjadikannya kawasan elit di Tangerang, yakni Bintaro. Sabtu begini, aku lembur di tempat ini demi menyerahkan donasi pelanggan yang dikumpulkan oleh PT. Hero Group, Tbk. Perusahaan ritel besar yang di dalamnya tergabung Giant Supermarket dan Hero Supermarket ini menitipkan dananya di tempatku bekerja untuk dikelola lewat sebuah program; GIAT (Gerakan Inspirasi Anak Teladan) dan Senyum Indonesia. Dalam kacamataku, program ini adalah contoh amanahnya sebuah perusahaan ritel yang menyelenggarakan donasi pelanggan.

Saat menekuri langkah, sayup-sayup aku mendengar suara seorang yang baru kukenal belum lama ini, lewat pengeras suara. Ibu Yumnah, kepala sekolah yang sedang memimpin anak-anak didiknya untuk bernyanyi dan bersiap menyambut kami—aku dan perusahaan pendonor baik hati yang menyumbangkan uangnya untuk mereka. Benar saja, saat kaki-kaki memijak pelataran sekolah, koridor telah penuh oleh anak-anak yang menyanyi, menyambut kami.

“Selamat datang Kakak, selamat datang Kakak, kami ucapkan. Selamat datang Bapak, selamat datang Bapak, kami ucapkan. Terimalah salam dari kami yang ingin maju bersama-sama. Terimalah salam dari kami yang ingin maju bersama-sama.”

Ada haru yang diam-diam merembes di kalbu, ada bangga yang pelan-pelan mengalir untuk lembaga tempatku bekerja. Adalah PKPU-Human Initiative, yang mengizinkanku merasai hangat di hati lewat apresiasi dan ucapan-ucapan terimakasih dari sekian ratus anak, atas kerja payahku. Ini baru satu sekolah yang kusambangi, bagaimana dengan delapan sekolah lainnya yang akan kudatangi dengan tujuan yang sama, dalam waktu dekat ini? Akan ada berapa ratus  mulut yang menghaturkan ucapan terimakasih? Akan ada berapa ratus hati yang diam-diam mendoakan? Dan berapa ratus pasang tangan yang menyalami dengan khidmat?

Kami datang, dan acara pun dimulai. Diawali dengan pembukaan, kemudian dibacakan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu siswi. Kami tertegun mendengar adik ini membacakan surat Al Bayyinah. Begitu khidmat dan khusyuk. Langgamnya bagus bak qori-qori yang sering kami dengarkan di kanal Youtube.

“Di sekolah kami, anak-anak memang diajarkan untuk memiliki nada ngaji seperti itu, Mbak, Pak.” Ibu Yumnah, kepala sekolah bercerita kemudian setelah adik ini selesai membaca.

Tak hanya tentang adik pembaca Al-Qur’an itu, Ibu Yumnah juga bercerita tentang sekolah yang kini dipimpinnya dan kami datangi untuk dibantu. MI Darussalam, belum memiliki banyak alumni sebab sejak saat berdirinya, MI ini langsung dihadapi beberapa problematika. Baru menempati gedung sekolah, madrasah sudah diminta untuk hengkang sebab tanah itu tanah negara dan harus dijadikan sekolah dasar.

Tiga tahun berlalu, permasalahan sengketa selesai. Tanah tersebut kemudian diwakafkan untuk Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, dengan kondisi gedung yang rusak di mana-mana. Kursi dan meja belajar diangkut entah kemana. Tersisa hanya gedung berlatar L dengan 6 kelas, 1 ruang guru, kepala sekolah, dan tata usaha yang digabung, 3 toilet, dan halaman sekolah yang cukup untuk upacara di hari Senin.

Tak ada musholla untuk ibadah padahal ini sekolah Islam. Mereka shalat dhuha dan shalat zhuhur di koridor, bersama-sama. Tak banyak tempat sampah yang tersedia, namun sekolah tetap bersih. Tak ada perpustakaan untuk para siswa memecahkan rasa penasaran mereka akan sesuatu, atau minimal untuk mendinginkan diri seperti kebanyakan anak-anak di sekolah lain. Tak ada rak sepatu untuk merapikan alas kaki mereka sebelum masuk ke teras kelas. Bahkan tak ada plang yang menunjukkan nama sekolah atau lainnya.

“Siswa kami hanya 179, Mbak. 6 grade, 6 rombel. Di antara siswa itu, banyak anak panti asuhan yang ada di belakang sekolah ini. Mereka yatim dan piatu,” ungkap Ibu Yumnah di awal pertemuan kami.

“Awalnya, kursi dan meja untuk anak-anak sudah sangat cukup, namun, ada yang tidak kami antisipasi. Rupanya pada tahun ajaran baru kemarin, calon peserta didik yang mendaftar melebihi kuota. Kami tak tega menolak begitu banyak anak yang ingin bersekolah. Akhirnya, kami terima juga. Sayangnya, justru berimbas ke satu kelas, yaitu kelas enam, yang harus belajar tanpa kursi. Mereka belajar seperti di masjid-masjid yang menyelenggarakan TPA. Berbekal meja kecil dan pojok baca di kelas.” Panjang lebar Ibu Yumnah menjelaskan kepada kami kondisi sekolah.

Alasan ini yang kemudian membuat PT. Hero Group, Tbk merasa perlu untuk menyumbangkan dananya lewat PKPU-Human Initiative, membelikan paket kursi dan meja belajar untuk mereka. Tak seberapa banyak bantuannya, tapi tepuk tangan membahana, ucapan terimakasih riuh memenuhi udara. Aku membayangkan, mungkin para pelanggan Giant dan Hero Supermarket tengah dilanda kemacetan di jalan, atau sedang makan, atau sedang apa saja dalam aktivitas hariannya, namun kebaikan dan doa-doa membubung hingga ke langit untuk mereka. Tanpa henti. Di sela tengadah tangan mereka atau sujud-sujud mereka.

Aku yang datang hanya sebagai buruh dokumentasi untuk laporan ke pihak pendonor, begitu merasa dicintai. Pelan-pelan, air mataku merembes akibatnya.

Terimakasih PKPU-Human Initiative. Terimakasih pelanggan Giant dan Hero Supermarket, yang dengan sadar menyumbangkan beberapa ratus rupiah untuk kemudahan akses pendidikan anak Indonesia. Terimakasih MI Darussalam, telah membuat hatiku merasa hangat.

Jakarta, di awal bulan ceria.

Tiga tahun berlalu, permasalahan sengketa selesai. Tanah tersebut kemudian diwakafkan untuk Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, dengan kondisi gedung yang rusak di mana-mana. Kursi dan meja belajar diangkut entah kemana. Tersisa hanya gedung berlatar L dengan 6 kelas, 1 ruang guru, kepala sekolah, dan tata usaha yang digabung, 3 toilet, dan halaman sekolah yang cukup untuk upacara di hari Senin.

Tak ada musholla untuk ibadah padahal ini sekolah Islam. Mereka shalat dhuha dan shalat zhuhur di koridor, bersama-sama. Tak banyak tempat sampah yang tersedia, namun sekolah tetap bersih. Tak ada perpustakaan untuk para siswa memecahkan rasa penasaran mereka akan sesuatu, atau minimal untuk mendinginkan diri seperti kebanyakan anak-anak di sekolah lain. Tak ada rak sepatu untuk merapikan alas kaki mereka sebelum masuk ke teras kelas. Bahkan tak ada plang yang menunjukkan nama sekolah atau lainnya.

“Siswa kami hanya 179, Mbak. 6 grade, 6 rombel. Di antara siswa itu, banyak anak panti asuhan yang ada di belakang sekolah ini. Mereka yatim dan piatu,” ungkap Ibu Yumnah di awal pertemuan kami.

“Awalnya, kursi dan meja untuk anak-anak sudah sangat cukup, namun, ada yang tidak kami antisipasi. Rupanya pada tahun ajaran baru kemarin, calon peserta didik yang mendaftar melebihi kuota. Kami tak tega menolak begitu banyak anak yang ingin bersekolah. Akhirnya, kami terima juga. Sayangnya, justru berimbas ke satu kelas, yaitu kelas enam, yang harus belajar tanpa kursi. Mereka belajar seperti di masjid-masjid yang menyelenggarakan TPA. Berbekal meja kecil dan pojok baca di kelas.” Panjang lebar Ibu Yumnah menjelaskan kepada kami kondisi sekolah.

Alasan ini yang kemudian membuat PT. Hero Group, Tbk merasa perlu untuk menyumbangkan dananya lewat PKPU-Human Initiative, membelikan paket kursi dan meja belajar untuk mereka. Tak seberapa banyak bantuannya, tapi tepuk tangan membahana, ucapan terimakasih riuh memenuhi udara.

Aku yang datang hanya sebagai buruh dokumentasi untuk laporan ke pihak pendonor, begitu merasa dicintai. Pelan-pelan, air mataku merembes akibatnya.

Terimakasih PKPU-Human Initiative. Terimakasih Hero Group. Terimakasih MI Darussalam telah membuat hatiku merasa hangat.

 

Jakarta, di awal bulan ceria

PKPU Human Initiative