Festival Ruwatan Bumi: Tradisi Tahunan Kampung Adat Banceuy

Pagi itu, terdengar suara alunan musik yang terdengar unik di telinga. Anak-anak tampak riuh riang menari dengan menggunakan pakaian tradisional khas Sunda. Ada pula bapak – bapak dan ibu – ibu yang turut serta memeriahkan acara saat itu. Ternyata hari itu Rabu, (28/08/2019) tengah berlangsung festival tahunan Ruwatan Bumi yang biasa digelar oleh masyarakat Kampung Adat Banceuy.

Festival Ruwatan Bumi dilaksanakan di desa Sanca kecamatan Ciater kabupaten Subang Jawa Barat. Ruwatan Bumi merupakan sebuah tradisi yang sudah dilakukan sejak kurang lebih 100 tahun yang lalu. Tradisi tersebut merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang sebagai wujud rasa syukur atas rejeki yang didapat dari hasil pertanian, perkebunan hingga keamanan di wilayah tersebut.

Puncak acara Ruwatan Bumi biasanya digelar pada setiap hari rabu bertepatan dengan hari terakhir menjelang 1 Muharram. Acara puncak berupa upacara adat yang biasa disebut Ngarak Dewi Sri yaitu berupa gelaran acara yang menampilkan berbagai kesenian, seperti tarian-tarian yang dibawakan oleh penduduk setempat.

Sebagai salah satu wilayah binaan, Human Initiative Jawa Barat pun turut menghadiri puncak acara Ruwatan Bumi tersebut. Kampung Adat Banceuy merupakan bentuk sinergi HI Jabar dengan PT Aqua Plant Subang dalam program ekowisata. Kepala Bidang Program Human Initiative Jawa Barat, Bustanul Aripin Natsir mengatakan festival tersebut bisa meningkatkan jumlah pengunjung ke wisata Kampung Adat Banceuy.

“Kemeriahan festival Ruwatan Bumi yang digelar setahun sekali diharapkan mampu menarik wisatawan. Karena Kampung Adat Banceuy ini masih menjaga kelestarian budaya Sunda yang khas. Sehingga untuk yang ingin merasakan nuansa Sunda yang masih terjaga silahkan di sini. Human Initiative Jawa Barat masih terus akan mengupayakan pemberdayaan, khusunya di bidang eco-wisata, untuk semakin memberikan kebermanfaatan untuk masyarakat di sini,” ungkap Bustanul.

Semua turut memeriahkan acara tersebut mulai dari anak-anak hingga para orang tua yang sudah berusia senja. Merdunya alat musik angklung, rengkong, dan  dogdog semakin membuat suasana semakin meriah. Tak lupa penampilan kuda renggong dan sisingaan menjadi bagian dari keanekaragaman kesenian asal Jawa Barat. Upacara adat ini pun di tutup dengan pertunjukan wayang golek yang dilaksanakan pada malam harinya.

Penulis :

Human Initiative Jabar