Egy Nicholas; Calon Guru IPA Hafidz Al-Qur’an

Ada dua penggal kalimat dalam pembukaan UUD 1945 yang mengatakan “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa”, dan salah satu tugas negara adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sederhananya, merdeka adalah bebas memilih tanpa dikekang atau ditekan faktor lain. Dan menjadi bangsa yang cerdas, adalah bagian dari kemerdekaan setiap nyawa yang beratapkan langit Indonesia dan berpijak di buminya.

Adalah Egy Nicholas, siswa kelas delapan di Ponpes Al Falah Sukajaya yang kesehariannya—sebelum sekolah dua tahun lalu—menyisir getah-getah pohon karet. Egy berasal dari keluarga yang memiliki banyak keterbatasan, sebagaimana kebanyakan warga di dusunnya-Dusun Sumpal, Musi Banyuasin.

Lahir dan tumbuh di dusun yang siangnya panas membara karena aktivitas pertambangan minyak dan malamnya dilahap gulita sebab listrik masih enggan masuk ke sana, kebanyakan anak hanya sekolah sampai tamat SD. Termasuk juga Egy, sebelum ia bertemu dengan kesempatan yang membuncahkan impiannya menyelam di kedalaman ilmu pengetahuan.

Setelah lulus SD dan mendapatkan selembar ijazah, seperti anak lainnya, Egy tak melanjutkan ke jenjang SMP karena akses untuk sekolah menengah cukup jauh dan sulit, juga karena biaya. Ia akhirnya memutuskan untuk membantu orangtuanya yang bekerja sebagai petani karet di kebun milik orang lain. Berbulan-bulan ia menekuni kegiatan hariannya bersama Ibu dan Ayah.

Ayah Egy, bukan tak peduli pada pendidikan anaknya, ia hanya tak tahu betapa pentingnya itu untuk masa depan buah hatinya. Dan tentu, alasan lainnya adalah biaya, seperti juga melanda para orangtua yang anak-anaknya tak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari, saat Egy tengah masuk dengan pekerjaan hariannya di kebun karet, seorang Kakak menghampiri dan menawarkan sesuatu, membangunkan cita-citanya yang lama pulas tertidur. Kakak ini menceritakan akan adanya seleksi beasiswa untuk jenjang SMP.

“Ini beasiswa dari sebuah lembaga sosial yang letaknya nun jauh di Jakarta sana. Namanya PKPU Human Initiative. Donaturnya dari ConocoPhilips. Egy mau ikut beasiswanya?”

Egy lantas mengangguk, sembari ingin segera sampai ke rumah dan menceritakan ke orangtuanya tentang beasiswa. Di kepalanya berseliweran pikiran-pikiran tentang seragam SMP, mengaji sore-sore, dan buku-buku yang bertumpuk. Cita-citanya yang ia pendam, kini serasa dekat bisa digenggam. Egy ingin jadi seorang guru yang hafal seluruh isi Al-Qur’an dan mengajarkan para muridnya ilmu alam.

Mendengar anaknya ingin sekolah begitu rupa, orangtua mana yang tak tersentuh hatinya? Begitupun ayah Egy, diam-diam bekerja lebih keras untuk mengumpulkan biaya. Sang ayah kemudian memutuskan untuk merantau ke Jambi demi tambahan pendapatan. Sementara itu, Egy giat belajar mengejar ketertinggalan dan mempersiapkan diri untuk seleksi beasiswa. Tiga bulan Egy menginap di camp kakak-kakak fasilitator program Peduli Pendidikan dari PKPU Human Initiative yang jaraknya dekat dengan satu-satunya Sekolah Dasar di Dusun Sumpal.

Selama tiga bulan menuju seleksi beasiswa, Egy belajar lebih giat dari siapapun. Ia bangun lebih pagi untuk belajar bersama anak-anak kelas enam, sorenya ia ikut les, malamnya masih ia gunakan untuk belajar sendiri atau mengaji. Sementara saat pekan pulang ke rumah, Egy kerap menumpang mobil PT atau sesekali diantar oleh pamannya, sebab jarak rumah Egy ke sekolah terbentang hingga 5 kilometer. Ia harus menempuh jalan berbatu, berdebu, dan masuk ke kebun-kebun. Namun, akses seperti itu tak menyurutkannya melangkah demi cita-cita. Egy paham, orangtuanya di Jambi membantung tulang demi dirinya, maka ia pun harus berusaha sekuat tenaga.

Pada akhirnya, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Egy berhasil menerima beasiswa tingkat SMP dari ConocoPhillips dan PKPU Human Initiative bersama 9 anak lainnya dari dusun yang sama. Mereka bersekolah di Pondok Pesantren Al Falah, Sukajaya. Sekolah yang sesuai dengan keinginan Egy untuk menjadi seorang yang menghafal Al-Qur’an.

Egy adalah salah satu interpretasi dari liatnya tekad, kerasnya upaya, derasnya doa, dan kuatnya keyakinan akan disambut hasil baik atas segala ikhtiar. Egy, satu lagi nama yang merdeka untuk mencerdaskan dirinya sendiri, sebagaimana cita-cita segenap bangsa Indonesia. (inf)